: Pendidikan, Kemiskinan, dan Deprivasi Sosial

Bagi anak-anak, usia sekolah semestinya menjadi masa paling menyenangkan yang penuh 
Batik Tulis B24 Katun Superdengan keceriaan karena pada tahun-tahun itulah mereka mulai mengenyam pendidikan sebagai bekal menjalani kehidupan di masa depan. Pada masa itu, anak-anak pergi ke sekolah menuntut ilmu, mengolah rasa, dan mengasah keterampilan. Di bangku sekolah mereka dapat mengembangkan tiga kemampuan dasar secara optimal: kognitif (daya nalar, intelektual), afektif (sikap, mentalitas, perasaan), dan psikomotorik (kemahiran teknikal). Di usia sekolah setiap anak seyogianya dapat mengikuti proses pendidikan guna mengembangkan segenap potensi diri sehingga tumbuh menjadi pribadi matang dan dewasa serta punya bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Dengan bekal pendidikan yang baik, setiap anak bisa hidup sebagai insan yang bermartabat mulia. 

Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini, kita sering membaca dan menyaksikan berita dari berbagai daerah: anak-anak usia sekolah mencoba melakukan bunuh diri. Usia sekolah tampaknya merupakan masa yang sangat pahit karena anak-anak mengalami peristiwa buruk yang pasti meninggalkan trauma yang mungkin tak terlupakan sepanjang hayat. Seperti diberitakan, akibat tekanan psikologis yang sangat hebat remaja belia melakukan percobaan bunuh diri, bahkan ada pula yang sudah mengakhiri hidup dengan cara yang sangat memilukan itu. Peristiwa paling mutakhir terjadi di Pekanbaru, Riau. Windar Kristian Waruwu, 12, siswa SD Negeri 010 Tuah Negeri, Kabupaten Siak, Riau, ditemukan meninggal gantung diri. Mental siswa dari keluarga kurang mampu yang baru lulus UASBN itu diduga tertekan karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMP (Media Indonesia.com, 21/5). Pada umumnya, motif yang mendasari tindakan nekat bunuh diri di kalangan pelajar berusia belia itu lantaran tidak tahan menanggung perasaan malu, misalnya, karena tak mampu membayar SPP (untuk sekolah swasta) atau iuran untuk keperluan kegiatan sekolah. Sedemikian miskinnya orang tua sang pelajar sehingga sekadar membayar iuran kegiatan ekstrakurikuler yang hanya berkisar Rp10.000 mereka tak mampu. 

Kemiskinan bukan saja melahirkan derita panjang yang tak tertanggungkan, melainkan juga menimbulkan tragedi kemanusiaan yang amat memilukan: bunuh diri. Kita boleh menyebut peristiwa ini sebagai tragedi karena yang melakukan tindakan percobaan bunuh diri adalah anak-anak usia sekolah. Sungguh, mereka mempunyai hak mutlak untuk mengenyam pendidikan sebagai bekal menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa depan. Namun, keluarga mereka mengalami kesulitan finansial karena tidak mampu secara ekonomi sehingga mereka harus berjuang keras untuk memperoleh pendidikan yang layak agar bisa keluar dari belenggu kemiskinan. Namun, mereka tidak berdaya, lalu mengambil jalan pintas: mengakhiri hidup. 

Bagaimana kita harus menjelaskan gejala sosial abnormal ini? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam masyarakat kita? Apakah tatanan sosial yang ada tidak bekerja secara semestinya sehingga tak mampu membendung perilaku masyarakat yang menyimpang? Bagaimana jalinan relasi sosial antarwarga masyarakat terbangun sehingga melahirkan peristiwa tragis itu? 

Jika kita kaji lebih mendalam, peristiwa ini, selain merefleksikan masalah kemiskinan yang akut, menunjukkan adanya problem sosial yang kronis dan krusial di dalam masyarakat, yakni kesenjangan ekonomi. Secara kasat mata, kita bisa melihat betapa kesenjangan ekonomi terus melebar dari tahun ke tahun. Kesenjangan ekonomi antara golongan masyarakat kaya dan kelompok masyarakat miskin demikian nyata dan sulit dijembatani. Fakta kesenjangan ekonomi ini kemudian melahirkan apa yang disebutsocial deprivation, yang lazim diartikan sebagai perception that one is worse off relative to those with whom one compares oneself (David Myers, 1998). Suatu situasi buruk yang dialami seseorang menjadi kian memburuk ketika ia membandingkan dengan orang lain yang berada dalam situasi sebaliknya. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tak mampu menanggung beban derita kemiskinan. Beban derita itu menjadi semakin berat ketika mereka menyaksikan anak-anak lain seusia yang berasal dari keluarga kaya dapat menjalani hidup layak bahkan bisa menikmati aneka jenis kemewahan. Siswa-siswa miskin tak punya uang yang cukup untuk membayar SPP dan membeli buku atau peralatan sekolah, bahkan terpaksa harus berjalan kaki menuju tempat sekolah karena tak ada ongkos transportasi. Sementara itu, peer group mereka yang berasal dari keluarga kaya bisa mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah mahal, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, ikut berbagai kursus dan les privat, punya sopir pribadi yang siap antar/jemput, dan bepergian ke luar kota/luar negeri ketika musim liburan sekolah. 

Deprivasi sosial banyak dijumpai di lingkungan masyarakat yang pola kehidupannya sangat individualistis. Bila relasi sosial antarwarga masyarakat cenderung impersonal dan bila setiap anggota masyarakat lebih menonjolkan sikap egosentrisme, perasaan empati atas kesulitan hidup yang dialami anggota masyarakat yang lain menjadi tumpul, bahkan hilang sama sekali. Dalam pola kehidupan demikian, sulit terbangun rasa kebersamaan dan solidaritas. Nilai kolektivitas digantikan nilai individualitas; sikap kolegialitas ditukar dengan sikap keakuan. Menurut Emile Durkheim, tatanan sosial yang tidak berasas organic solidarity, dan sebaliknya berdasar mechanic solidarityakan melemahkan ikatan sosial di antara sesama warganya. Lebih jauh lagi, guncangan pada organic solidarity akan menciptakan kondisi yang membuka peluang munculnya gejala bunuh diri. Durkheim berujar, "It is quite certain that a consistent increase in suicides always attests to a serious upheaval in the organic conditions of society."

Deprivasi sosial ditandai empat hal penting. Pertama, bila kehidupan masyarakat telah kehilangan apa yang disebut social engagement, yakni suatu dinamika interaksi antarwarga masyarakat yang penuh dengan kehangatan, kebersamaan, dan persahabatan yang sangat dekat seperti lazim dijumpai di dalam masyarakat yang bercorak Gemeinschaft. Kedua, bila kohesi sosial telah memudar sehingga setiap warga masyarakat tidak lagi memiliki kekuatan perekat yang bisa menautkan di antara sesamanya. Ketiga, bila kehidupan masyarakat mengalami social detachment, yakni setiap warga masyarakat melepaskan diri dari ikatan kolektivitas sehingga menyebabkan hilangnya collective conscience. Keempat, bila setiap warga masyarakat melakukan social disassociation, yakni setiap warga masyarakat keluar dari ikatan kekelompokan (asosiasi) sehingga di antara mereka tidak lagi merasa memiliki kepentingan bersama. 

Jika keempat karakteristik itu ditemui di dalam masyarakat, dapat dipastikan warganya dengan mudah mengalami alienasi sosial. Gejala deprivasi sosial pun akan menjadi kian menguat dan sulit diatasi. Setiap orang mempunyai daya tahan psikologis yang berbeda dalam mengatasi problem deprivasi sosial. Bagi orang yang ketahanan mentalnya lemah dengan mudah mengambil jalan pintas: bunuh diri. Durkheim dalam karya klasik yang menjadi magnum opus, Suicide (1897), secara meyakinkan menulis:"...people with weak social bonds are prone to self-destructive behavior; whenever society loses what it normally possesses..whenever the individual disassociates himself from collective goals in order to seek only his own interests..suicide increases; man is the more vulnerable to self-destruction the more he is detached from any collectivity, that is to say, the more he lives as an egoist."

Kita sungguh sedih berulang kali menyaksikan peristiwa (percobaan) bunuh diri di kalangan anak-anak usia sekolah. Kita menyadari sepenuhnya betapa kemiskinan bukan saja menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk mendapat pendidikan, melainkan juga melahirkan deprivasi sosial. Bagi siapa saja yang mendalami sosiologi kemiskinan, dengan mudah dapat memahami mengapa masyarakat miskin sangat rentan terhadap perilaku merusak diri (self-destructive behavior). Di sini makna esensial dan asasi tanggung jawab negara dalam memberi layanan pendidikan bagi anak-anak miskin harus diletakkan. Bila negara dapat menunaikan tanggung jawabnya dengan baik, kita berharap perilaku sosial abnormal ini bisa dieliminasi sehingga tidak berkembang menjadi gejala umum yang berdampak negatif ganda: (i) merusak jiwa dan masa depan anak; dan (ii) membahayakan ketahanan sosial masyarakat. Jika kedua hal itu dibiarkan terjadi, dapat dipastikan bahwa Indonesia memang tak bermasa depan. 


Oleh Amich Alhumami Peneliti sosial Department of Anthropology University of Sussex, United Kingdom

: PANCASILA

Oleh, Azyumardi Azra
Batik Tulis Gurik BG01

Satu Juni 2010. Saya ingat Pancasila dan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 di dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Enam puluh lima tahun sudah berlalu; dan tetap terkesima ketika membaca pidato Bung Karno dengan gaya oratorik dan lisannya, lengkap dalam bahasa Indonesia, tetapi dibumbui berbagai ungkapan, istilah, dan kosakata asing dan bahasa daerah. Terasa pidato itu sangat hidup dan membakar semangat memperkuat persatuan dan usaha mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tidak heran kalau pidato itu mendapat sambutan antusias para anggota BPUPKI, yang sering bertepuk tangan.

Apa yang disampaikan Bung Karno tentang 'Pancasila' memang berbeda dalam segi urutan dengan Pancasila yang ada di dalam Pembukaan UUD 1945, yang kemudian menjadi baku sampai hari ini. Sila-sila yang juga disebut sebagai 'prinsip' oleh Bung Karno adalah: Pertama, kebangsaan Indonesia; kedua, internasionalisme atau perikemanusiaan; ketiga, mufakat atau demokrasi; keempat, kesejahteraan sosial; dan kelima Ketuhanan. Khusus untuk yang terakhir ini, Bung Karno menjelaskan: "Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa .… Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan …. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada 'egoisme agama' .… Marilah kita amalkan, jalankan agama .… dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain."

Tetapi, Bung Karno tidak hanya bicara tentang lima dasar, prinsip, atau sila. Jika ada orang yang tidak suka dengan lima, dia bisa memerasnya menjadi tiga dasar saja: kebangsaan dan internasionalisme [yang juga dia sebut socio-nasionalisme], kebangsaan dan perikemanusiaan [socio-democratie], dan ketuhanan. Bahkan, Bung Karno juga siap memeras ketika sila itu menjadi satu sila saja, yang tulen dari perkataan Indonesia, yaitu gotong royong. Lalu Bung Karno menyatakan, "Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila, tetapi terserah kepada tuan-tuan, mana yang tuan-tuan pilih; Trisila, Ekasila, atau Pancasila.''

Kita tahu, akhirnya Pancasilalah yang dipilih dengan penyesuaian urutan dan kata-kata sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Masalahnya sekarang; seberapa banyak di antara anak bangsa, khususnya generasi muda yang tahu tentang Pancasila; semangat zaman yang mendorong kemunculannya; dinamika politik seputar perumusannya, dan seterusnya. Mungkin yang masih saja menjadi ingatan kolektif banyak kalangan masyarakat kita adalah: Pancasila pada masa Pemerintahan Orde Baru pernah dijadikan 'alat' untuk mempertahankan status quo kekuasaan dengan mengorbankan hak-hak rakyat.

Terlepas dari pasang dan surutnya dalam perjalanan sejarah negara-bangsa Indonesia sepanjang 65 tahun ini, Pancasila merupakan sebuah 'political invention', penemuan politik yang luar biasa; sesuatu yang genuine, meski Bung Karno juga terkenal sebagai pemikir eklektik, yang mengambil inspirasi dari berbagai wacana dan konsep, yang bukan tidak jarang bertolak belakang satu sama lain-ingat saja Nasakom, misalnya. Terlepas dari eklektisisme itu, bagaimanapun, sebagai sebuah paradigma untuk kehidupan negara-bangsa, Soekarno akhirnya dapat merumuskan Pancasila secara padu di dalam satu kesatuan, sehingga sekaligus pula dalam mengakomodasi berbagai realitas historis, sosiologis, politis, dan religius dalam kehidupan berbangsa bernegara, baik di masa pergerakan kemerdekaan, pasca-kemerdekaan, dan seterusnya.

Dengan menyatakan hal seperti itu, sebagian orang boleh jadi berpandangan, bahwa hal itu merupakan semacam idealisasi, romantisasi, atau bahkan mitologisasi Pancasila. Pandangan seperti itu tidaklah terlalu salah; dan sebaliknya bahkan diperlukan. Karena bagaimanapun, prinsip-prinsip atau sila-sila yang disebut Soekarno sebagai  weltaanschauung (pandangan dunia) memang sepatutnya mengandung kerangka filosofis yang sarat dengan pandangan-pandangan idealistik, yang menjadi semacam titik ideal harus diupayakan negara dan warganya secara terusmenerus-sebuah perjuangan yang tidak pernah selesai.

Karena itu, tidak pada tempatnya jika ada di antara kita yang berpendapat, Pancasila tidak lagi relevan, karena lebarnya jurang di antara prinsip dan sila-sila Pancasila dengan realitas kehidupan hari ini, dan bahkan di masa depan. Adanya kenyataan seperti itu, seharusnya menjadi daya dorong untuk mengatasi jurang dan kesenjangan antara cita ideal dalam pandangan dunia kita dengan realitas yang ada di depan mata. Dalam konteks itu, ingatan bersama pada Pancasila mesti senantiasa disegarkan; paling tidak dengan mengingat Pancasila, kita bisa menyadari betapa banyak hal yang masih harus dilakukan untuk memajukan kehidupan berbangsa bernegera.

: Memahami Siklus Supervisi Sekolah

Supervisi atau pengawasan merupakan salah satu aspek penting dari siklus proses belajar-mengajar di sekolah. Dari perspektif manajemen kurikulum, 
Batik Tulis Gurik BG02supervisi merupakan bagian integral dari dimensi pengembangan kurikulum (curriculum development) dan umpan balik (feedback) terhadap implementasi dokumen tertulis dari kurikulum (Fenwick W English, 1996). Peran dan fungsi pengawasan menjadi sangat penting bagi capaian akademik siswa dan kapasitas guru dalam mengajar. Dalam tahapan yang lebih besar, sesungguhnya proses pengawasan merupakan salah satu aspek yang cukup dominan dalam menilai efektivitas manajemen sekolah. Karena itu, penting untuk mengetahui asumsi filosofis dari siklus supervisi, bagaimana sebaiknya proses supervisi dilakukan, harus melibatkan siapa saja, serta apa substansi yang sebaiknya disupervisi. 

Prinsip supervisi
Berdasarkan pengalaman kami berdua, supervisi haruslah merupakan sebuah proses tindakan yang secara sadar mengarahkan guru dan pengawas untuk bekerja secara bersama dalam merencanakan pembelajaran. Prinsip ini sesuai dengan keyakinan bahwa kemampuan seorang guru dan pengawas hanya dapat berkembang dalam beberapa hal pada suatu waktu (teacher and supervisor can improve only on a few things at one time). Artinya kita tidak dapat mengembangkan beberapa aspek dari perilaku secara simultan. Peningkatan keterampilan dan pengetahuan biasanya terjadi ketika seorang guru dan pengawas telah memahami suatu proses secara bersama, kemudian bersepakat untuk mencari pengetahuan dan keterampilan baru yang lebih baik lagi. 
Sebagaimana halnya berlatih badminton, sangat tidak mungkin seorang pelatih mengajarkan cara men-smash, memukul lob, bermain netting, dan teknik servis sekaligus pada waktu yang sama. Semuanya memerlukan tahapan sesuai dengan keinginan bersama antara pelatih dan pemain. Demikian juga dengan mengajar, pengawas harus membantu guru untuk fokus pada keterampilan membuat lesson design di tahap awal, baru kemudian memikirkan instructional strategies yang paling tepat untuk digunakan dan seterusnya. 
Prinsip kedua yang kami yakini harus dimiliki guru dan pengawas dalam berinteraksi adalah bahwa seseorang dapat berkembang jika cara kerjanya terus dihargai dan tidak berada di bawah tekanan atau ancaman (teachers improve the most when they are not threatened). Memberikan kebebasan kepada guru untuk bekerja secara maksimal dan mendiskusikan ketimbang terus memberikan instruksi adalah sebuah pendekatan yang harus disadari semua pengawas. Tidak mudah bagi seorang guru yang telah lelah dalam mengajar tetapi harus mengalami tekanan dari pengawas. Karena itu, kesadaran untuk saling belajar sangat dibutuhkan dalam siklus supervisi yang sehat dan berkesinambungan. 
Ketiga, kami juga memercayai bahwa guru dapat belajar dengan lebih baik ketika mereka diberi kesempatan untuk menganalisis dan menilai cara mengajar mereka sendiri (teachers learn better when they have the opportunity to analyze and judge their own performance). Semakin sering kesempatan seperti ini dilakukan, maka pengawas akan lebih mudah dalam menjalankan tugasnya. Kata kunci dari proses ini adalah keinginan pengawas untuk selalu belajar dari cara guru menilai performa mereka sendiri, kemudian mendiskusikannya dalam batas pemahaman dan pengalaman yang diperoleh guru ketika berinteraksi dengan siswa di dalam kelas. 
Dalam tahapan ini, biasanya pengawas yang cerdas selalu bertanya, "Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini ketika mengajar tadi?" Artinya, pengawas secara sadar belum akan menilai performa seorang guru sebelum memberi kesempatan terlebih dahulu kepada guru tersebut untuk menilai performa mereka hari itu. Jika proses ini dilakukan seorang pengawas, sesungguhnya dia sedang mengubah mentalitas guru dari yang sebelumnya sangat bergantung pada pola pengawasan serba ketat dan instruktif, menjadi lebih independen dan percaya diri karena diberi kepercayaan untuk menilai performa mereka sendiri. 
Prinsip keempat atau terakhir yang kami yakini adalah bahwa peningkatan kemampuan guru akan terjadi jika proses supervisi didasarkan pada semangat hubungan pembelajaran yang saling menolong daripada semata-mata hanya menilai baik-buruk atau salah-benarnya seorang guru (improvement is greater when supervision is perceived as learning-helping relationship rather than a judgemental relationship). Tujuan yang paling fundamental dari sebuah proses supervisi adalah menolong orang lain agar menjadi guru yang lebih baik sehingga kemampuan mendesain rencana pembelajaran dan mengajarnya itu sendiri terus berkembang. 
Meskipun penilaian dan evaluasi sangat dibutuhkan dalam proses supervisi, kedua hal ini harus dipandang sebagai tools atau instrumen yang justru dapat digunakan untuk menolong seseorang dalam meningkatkan kemampuan mengajarnya. Selain itu, rasa saling percaya (trust) adalah kunci pokok dalam membangun hubungan yang lebih kooperatif antara guru dan pengawas. Rasa saling percaya hanya akan tumbuh ketika kejujuran, komunikasi yang terbuka, serta komitmen untuk meningkatkan pelayanan pendidikan terhadap siswa ke arah yang lebih baik disepakati bersama antara pengawas dan guru. Prinsip-prinsip inilah yang penting dan perlu untuk dipahami sekaligus dilakukan para pengawas dan guru di lingkungan sekolah masing-masing. 

Siklus supervisi
Jika keempat prinsip di atas disepakati, beberapa tahapan dalam siklus supervisi pasti akan dengan mudah dilakukan. Proses dan siklus supervisi yang akan dikembangkan biasanya mencakup 3 (tiga) tahap, yaitu (1) merumuskan dan mendiskusikan rancang bangun rencana pembelajaran (lesson design); (2) melakukan observasi kelas untuk memastikan apakah skema lesson design diajarkan secara benar; serta (3) me-reviewproses pengajaran berdasarkan observasi dan pencatatan yang dilakukan oleh pengawas. Jelas sekali ketiga tahapan ini memerlukan pengetahuan, pemahaman, dan ketersediaan waktu yang cukup bagi pengawas ketika akan melakukannya. 
Ketiga tahapan ini memang ideal. Namun, untuk kasus pengawasan di sekolah-sekolah kita, pada prakteknya tak semua pengawas mampu melakukannya. Hal ini paling tidak karena dua hal. Pertama, jumlah pengawas yang masih terbatas, sementara jumlah sekolah lebih banyak. Selain itu, di beberapa daerah pengawas juga menjadi kurang maksimal melakukan proses supervisi yang ideal karena jarak antarsekolah berjauhan. Kedua, tingkat kemampuan dan pemahaman pengawas terhadap siklus pengawasan juga belum merata sehingga banyak sekali pengawas yang datang ke sekolah hanya duduk di ruang kepala sekolah, memanggil guru tanpa melakukan observasi kelas. Untuk itulah ketiga tahapan di atas penting untuk dipahami secara jelas oleh para pengawas. 
Berdasarkan empat prinsip supervisi di atas, pada tahap awal harus terjadi diskusi secara intensif antara pengawas dan guru tentang rancang bangun rencana pembelajaran yang meliputi topik-topik yang akan diajarkan, bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran secara ideal dan berdasar kebutuhan siswa, melakukan prosedur pengajaran sesuai pilihan instructional strategies yang telah ditetapkan, serta melihat bagaimana guru memastikan bahwa apa yang akan diajarkannya dipahami siswa (evaluation). 
Pada tahap kedua pengawas juga dituntut dan perlu melakukan observasi kelas untuk memastikan apa yang ditulis dalam rencana pembelajaran diajarkan sesuai dengan desainnya. Ketika melakukan observasi kelas, pengawas seyogianya menghindari interaksi langsung dengan guru. Pengawas hanya mengobservasi dan membuat catatan sebanyak mungkin selama proses interaksi belajar-mengajar berlangsung. Catatan menjadi penting untuk melihat kesesuaian antara topik, tujuan, proses pengajaran, dan evaluasi yang ditulis dalam rencana pembelajaran. 
Tahap terakhir adalah melakukan review terhadap proses belajar-mengajar yang telah dilakukan guru. Proses review sebaiknya dilakukan berdasarkan rekaman dan data yang diperoleh pengawas secara langsung ketika melakukan observasi kelas, dan pengawas sebaiknya menghindari untuk menilai terlebih dahulu, tetapi hanya menunjukkan tentang apa yang telah diobservasi. Jika guru telah membaca dengan seksama data hasil observasi tersebut, barulah didiskusikan dan dianalisis, pada aspek apa guru harus memperbaiki performanya. Hasil dari diskusi ini kemudian dicatat dan disepakati guru dan pengawas, untuk dijadikan bahan perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya. Pertanyaan sederhananya adalah, seberapa banyak dari pengawas dan guru kita yang memahami prinsip supervisi dan melakukan proses dan siklus supervisi yang ideal seperti ini? Wallahu a'lam bis-shawab.

: Un dan masa depan pendidikan Indonesia

syamsiar alam
Batik Tulis Gurik BG03U JIAN nasional (UN) dipastikan akan tetap masuk dalam perbendaharaan kebijakan pendidikan nasional pada tahun depan meskipun hasilnya di tahun ajaran 2009/10 sangat mengecewakan, terutama bagi anak-anak yang belum berhasil lulus. Kekecewaan juga dialami oleh para pengelola kebijakan pendidikan pada hampir semua tingkatan karena mereka selama ini sudah sangat terbiasa dengan hasil kelulusan siswa yang mendekati sempurna meskipun tanpa harus bekerja keras. Hal lain yang juga selalu mengemuka adalah tentang proses berlangsungnya UN itu sendiri; sudah jujur, akan jujur, atau belum jujur.

Potret UN Hasil UN tahun 2009/10 mengindikasikan potret pendidikan kita yang sebenarnya masih buram. Sosoknya masih sangat kontras dengan yang diiklankan di sejumlah media massa selama ini, yang hanya cukup menyebutkan kata `bisa', dan semua program taken for granteed akan terjadi. Gambaran buram itu sudah dengan sangat jelas dan gamblang ditunjukkan dari hasil perolehan siswa-siswa di DIY dan Jakarta pada UN SMA/SMP lalu. Pencapaian secara nasional sebenarnya masih dapat dianggap wajar (reasonable) karena hanya terjadi penurunan sekitar 6%, dari 96% pada tahun lalu menjadi 89,6%. Namun karena DIY dan DKI Jakarta merupakan barometer kemajuan pendidikan selama ini, angka 6% menjadi luput dari penglihatan.

Kasus di kedua daerah ini menjadi sangat menarik untuk diamati, mengingat tingkat kelulusan di Jakarta dan DIY pada tahun ini mengalami penurunan melebihi angka 15%. Padahal Jakarta dan DIY selama ini dikenal memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang relatif baik dan lengkap. Tingkat kehidupan sosioekonomi masyarakatnya juga relatif baik, dan diskrepansi kualitas antarsekolah (education gap) juga tidak terlalu lebar. Namun angka kelulusannya ternyata bisa lebih rendah daripada daerah lain, bahkan daerah seperti Papua dan Papua Barat sekalipun yang sarana dan prasarana pembelajarannya lebih terbatas. Kenapa itu bisa terjadi? Apakah karena pengelolaan pendidikan di daerah-daerah lain sudah jauh lebih baik daripada Jakarta dan DIY?
Sebagai bahan perbandingan untuk menilai kinerja pemerintah dalam mengelola pendidikan selama ini, kita juga dapat menggunakan hasil survei PISA dan TIMSS terhadap siswa sekolah menengah di Tanah Air. Selama tiga kali kegiatan penilaian TIMSS (Trends in Mathematics and Science Study), yaitu tahun 1999, 2003, dan 2007, hasilnya menunjukkan siswa SMP kita berada di bawah anak-anak dari negara ASEAN lainnya.
Dari tiga periode tes pada mata pelajaran matematika, siswa SMP kita hanya memperoleh skor 403, 411, dan 405 (skala dari 0 hingga 800), dengan rata-rata skor 500. Sebagai pembanding, pada 2007 anak-anak sebaya mereka di Singapura, Malaysia, dan Thailand memperoleh skor 593, 474, dan 441. Sementara itu, hasil PISA (Program for International Assessment of Student) juga menunjukkan keadaan yang serupa. Pada 2006, skor perolehan siswa SMP pada matematika dan sains (IPA) bertengger hanya pada angka 391 dan 393 (skala 0-800), padahal rata-rata skor sebesar 500. Apabila perolehan sko pada PISA kita transformasikan pada band descriptors yang juga dikembangkan lembaga itu, potret pendidikan menengah yang kita peroleh lebih mencemaskan lagi. Penjelasan makna dari skor yang diperoleh siswa SMP kita pada band descriptors menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran yang dilakukan guru di balik pintu ruang kelas sejauh ini masih sangat rendah.
Dinas pendidikan dan kepala sekolah diduga masih kurang memberikan perhatian pada proses pembelajaran di kelas sehingga keadaan itu (rendahnya mutu pembelajaran) terus bertahan sebagaimana yang diperlihatkan sebagaimana yang diperlihatkan dari hasil siswa pada penilaian TIMSS dan PISA di muka.
Kurangnya perhatian itu apakah hanya masalah kelalaian atau disebabkan faktor yang lebih substantif, seperti minimnya pengetahuan tentang manajemen pembelajaran, pemanfaatan data untuk pening katan mutu pembelajaran, dan k pemimpinan. Pertanyaan-pertanyaan pemimpinan. Pertanyaan-pertanyaan itu harus dapat ditemukan jawabannya agar pendidikan dapat lebih rigorous dan memiliki daya saing. Pada band descriptors dijelaskan, perolehan skor sampai dengan 450 menunjukkan bahwa siswa (testees) hanya mampu menjawab soal-soal tes yang mengukur kemampuan ingatan (recalling), pemahaman, dan sedikit aplikasi, jika kita merujuk pada educational objectives dari Benjamin Bloom. Sedangkan soal-soal tes yang mengukur kemampuan analitis dan pemecahan masalah berada di atas angka 450. Jadi, hasil TIMSS dan PISA memberikan gambaran betapa rendahnya kualitas pembelajaran dan penilaian di banyak lembaga pendidikan kita.
Hasil TIMSS dan PISA ini juga hampir sama dengan beberapa temuan awal dari hasil studi terhadap kemampuan siswa dan guru SMA/ madrasah aliah pada mata pelajaran matematika, sains, bahasa, dan sosial di Kabupaten Lahat dan Muara Enim, Sumatra Selatan, yang dilakukan Gerutas Indonesia pada 2009. Siswa-siswa di kedua kabupaten itu mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal tes yang mengukur kemampuan analitis, pemecahan masalah, dan interpretasi pada soal-soal bahasa Indonesia dan Ing gris. Dari hasil studi itu juga ditemukan bahwa proses pembelajar an dan pe nilaian yang dilakukan guru hanya mengguna kan dan m e n g andalkan sum ber atau bahan yang sangat terbatas seperti buku-buku teks (course books). Guru kurang memiliki kemampuan untuk mengolah dan mengem bangkan bahan pembelajaran se hingga bisa lebih menantang dan berkualitas. Pembelajaran lebih banyak menggunakan kegiatan hafalan (rote learning) sehingga kemampuan siswa kurang dan jarang sekali diekspose dengan model pembe lajaran yang dapat menumbuh kan kreativitas, kemampuan menganalisis, dan memecah kan masalah. Pada pembelajaran membaca, misalnya, siswa hanya dilatih untuk sekadar memahami teks bacaan (reading comprehension), tetapi sangat sedikit siswa dilatih agar dapat menafsirkan apalagi diajak untuk mengkritisi teks (critical reading) dan mengikuti alur atau siklus pembelajaran yang mencerahkan semacam transformative reading.
Lagi, evaluasi UN UN, meskipun hasilnya menunjukkan penurunan yang cukup tajam pada sejumlah daerah, tetap belum dapat dikatakan sudah berhasil memotret keadaan kualitas pendidikan menengah dengan baik. Data kelulusannya masih menimbulkan sejumlah pertanyaan. Sebagaimana dilaporkan banyak media, pelaksanaan UN masih menyimpan berbagai masalah.
Administrasi UN masih belum memenuhi standar kelayakan untuk sebuah praktik penilaian yang bisa dikategorikan sebagai highstake exams atau praktik penilaian yang hasilnya akan digunakan untuk kepentingan kelulusan dan sertifikasi.
Selain persoalan administrasi, kualitas materi soal yang akan digunakan masih belum memadai (inadequate) jika hasilnya akan dijadikan dasar untuk mengukur kemajuan pendidikan nasional. Karena itu, penyempurnaan materi soal tes mutlak harus dilakukan apabila hasil UN akan terus digunakan sebagai barometer mutu pendidikan nasional dan untuk mengetahui tingkat kesiapan anak-anak Indonesia memasuki persaingan global, yang perekonomiannya sudah berbasiskan pada ilmu pengetahuan (knowledge based economy).
Substansi materi soal tes saat ini menjadi bahan diskusi dan kajian yang serius di banyak negara, khususnya negara-negara yang masih memberlakukan high-stake exams bagi siswasiswa sekolah dasar dan menengah. Negaranegara itu sudah berbicara perihal yang lebih substantif, yaitu tentang materi soal apa yang paling dibutuhkan bagi anak-anak saat ini sehingga mereka dapat lebih mudah menyesuaikan diri dalam dunia yang cepat berubah.
Anak-anak harus dibekali dengan kemampuan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah pada saat mereka menemukan/dihadapkan pada sebuah kasus. Karena itu, soalsoal tes yang dikembangkan harus dapat mengcapture kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis dan analitis (critical and analitical thinkings), dan aplikatif.
Dengan memperhatikan pencapaian negaranegara jiran, sistem dan desain penilaian ke depan hendaknya dapat dihubungkan dengan sistem penilaian yang dikembangkan oleh negara-negara maju yang dijadikan referensi.
Sedangkan pada tataran nasional, melakukan kajian secara lebih intensif dan komprehensif terhadap keselarasan kurikulum (curriculum alignment) adalah kebutuhan sangat mendesak.
Keselarasan antara perencanaan, pembelajaran, kurikulum, standar, dan penilaian harus terjadi, baik secara substansi maupun per jenjang dan tingkatan pendidikan. Keselarasan kurikulum dapat membantu pemerintah dalam menyusun berbagai regulasi dan tindakan penyempurnaan terhadap standar, pembelajaran, dan penilaian.
Adapun bagi sekolah, hasil alignment juga dapat digunakan untuk membantu menyiapkan siswa pada setiap event ujian. 

:Arab Saudi


Arab Saudi atau Saudi Arabia atau Kerajaan Arab Saudi adalah negara Arab yang terletak di Jazirah Arab. Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas 
Batik Tulis Gurik BG04
gurun pasir dengan gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al Khali. Orang Arab menyebut kata gurun pasir dengan kata sahara.
Negara Arab Saudi ini berbatasan langsung (searah jarum jam dari arah utara) dengan Yordania, Irak, Kuwait, Teluk Persia, Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, dan Laut Merah.
Nama Saudi berasal dari kata Bani Saud sebagai keluarga kerajaan dan pendirinya. Arab Saudi terkenal sebagai Negara kelahiran Nabi Muhammad SAW serta tumbuh dan berkembangnya agama Islam, sehingga pada benderanya terdapat dua kalimat syahadat yang berarti "Tidak ada tuhan (yang pantas) untuk disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusannya".
Sejarah
Pada masa dahulu daerah Arab Saudi dikenal menjadi dua bagian yakni daerah Hijaz yakni daerah pesisir barat Semenanjung Arab yang didalamnya terdapat kota-kota diantaranya adalah Mekkah, Madinah dan Jeddah serta daerah gurun Najd yakni daerah daerah gurun sampai pesisir timur semenanjung arabia yang umumnya dihuni oleh suku suku lokal Arab (Badui) dan Kabilah kabilah Arab lainnya.
Pemerintah Saudi bermula dari bagian tengah semenanjung (jazirah) Arab yakni pada tahun 1750 ketika Muhammad bin Sa'ud bersama dengan Muhammad bin Abdul Wahhab bekerja sama untuk memurnikan agama Islam yang kemudian dilanjutkan oleh Abdul Aziz Al Sa'ud atau Abdul Aziz Ibnu Su'ud dengan menyatukan seluruh wilayah Hijaz yang dulu dikuasai oleh Syarif Husain dengan Najd.
Pemurnian Islam ini juga berdampak atas pembaharuan Islam di Indonesia yang berpngaruh pada masyarakat Minangkabau dan Jawa, sehingga terjadilah perubahan sosial yang cukup nyata. Sebagai contoh bisa diperhatikan cara berpakaian Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo dan Sentot Prawirodirjo.
Ekonomi
Wilayah ini dahulu merupakan wilayah perdagangan terutama dikawasan Hijaz antara Yaman-Mekkah-Madinah-Damaskus dan Palestina. Pertanian dikenal saat itu dengan perkebunan kurma dan gandum serta peternakan yang menghasilkan daging serta susu dan olahannya. Pada saat sekarang digalakkan sistem pertanian terpadu untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian.
Perindustrian umumnya bertumpu pada sektor Minyak bumi dan Petrokimia terutama setelah ditemukannya sumber sumber minyak pada tanggal 3 Maret 1938. Selain itu juga untuk mengatasi kesulitan sumber air selain bertumpu pada sumber air alam (oase) juga didirikan industri desalinasi Air Laut di kota Jubail. Sejalan dengan tumbuhnya perekonomian maka kota-kota menjadi tumbuh dan berkembang. Kota-kota yang terkenal di wilayah ini selain kota suci Mekkah dan Madinah adalah Kota Riyadh sebagai ibukota kerajaan, Dammam, Dhahran, Khafji, Jubail, Tabuk dan Jeddah.
Politik
Arab Saudi menggunakan sistem Kerajaan atau Monarki. Hukum yang digunakan adalah hukum Syariat Islam dengan berdasar pada pengamalan ajaran Islam semurni-murninya sesuai dengan Al Qur'an dan Hadits. Memiliki hubungan internasional dengan negara negara lain baik negara negara Arab, negara-negara anggota Organisasi Konfrensi Islam, maupun negara negara lain.
Peta Arab Saudi
Penduduk dan pembagian wilayah
Penduduk Arab Saudi adalah mayoritas berasal dari kalangan bangsa Arab sekalipun juga terdapat keturunan dari bangsa-bangsa lain serta mayoritas beragama Islam. Di daerah daerah industri dijumpai penduduk dari negara-negara lain sebagai kontraktor dan pekerja asing atau ekspatriat
Wilayah Arab Saudi terbagi atas 13 provinsi atau manatiq (jamak dari mantiqah) yakni:
  • Bahah
  • Hududusy Syamaliyah
  • Jauf
  • Madinah
  • Qasim
  • Riyadh
Syarqiyah, Arab Saudi (Provinsi Timur)
'Asir
Ha'il
Jizan
Makkah
Najran
Tabuk
Geografi
Arab Saudi terletak di antara 15°LU – 32°LU dan antara 34°BT – 57°BT. Luas kawasannya adalah 2.240.000 km². Arab Saudi merangkumi empat perlima kawasan di Semenanjung Arab dan merupakan negara terbesar di Asia Timur Tengah. Permukaan terendah di sini ialah di Teluk Persia pada 0 m dan Jabal Sauda' pada 3.133 m. Arab Saudi terkenal sebagai sebuah negara yang datar dan mempunyai banyak kawasan gurun. Gurun yang terkenal ialah di sebelah selatan Arab Saudi yang dijuluki "Daerah Kosong" (dalam bahasa Arab, Rub al Khali), kawasan gurun terluas di dunia. Namun demikian di bagian barat dayanya, terdapat kawasan pegunungan yang berumput dan hijau.
Daftar Tokoh Saudi Arabia
Politikus, Negarawan dan sebagainya
Raja Fahd bin Abdul Aziz
Raja Faisal bin Abdul Aziz
Ibnu Saud
Nabi Muhammad SAW, nabi terbesar dalam Islam
Ilmuwan, Penulis, Filsuf dan sebagainya
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz
Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali
Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad
Lain-lain
Adnan Khashoggi
Osama bin Laden

Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud dari Arab Saudi

Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud (Arab: عبد الله بن عبد العزيز آل سعود, lahir 1924)[2] adalah Raja Arab Saudi yang keenam. Setelah tampil sebagai Pangeran Abdullah, ia mencapai puncak kekusaan pada 1 Agustus 2005 sesaat setelah wafatnya Raja Fahd. Ia sudah tampil sebagai penguasa de facto dan dimungkinkan tampil menggantikan sebagai Raja Arab Saudi sejak tahun 1995 ketika Raja Fahd mengalami penurunan kesehatan akibat terserang stroke. Akhirnya, memang pada 3 Agustus 2005, ia menyandang gelar Raja setelah wafatnya raja terdahulu, yang masih sanak saudaranya.[3] Sebagai seorang anaknya, Pangeran Mutaib ditampilkan sebagai wakil komando Dewan Garda Nasional Saudi (Saudi National Guard).
Abdullah
الملك عبد الله
Riwayat Hidup
Ia adalah salah satu dari 37 putra Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud (pendiri Arab Saudi modern) yang lahir dari rahim Fahada binti Asi-al Syuraim yang adalah istri kedelapan Abdul Aziz dari keluarga Rasyid.
Ia menerima pendidikan di Sekolah Kerajaan Princes' School dari pejabat-pejabat dan tokoh-tkoh intelektual keagamaan dan dibesarkan di bawah pengawasan ketat Raja Abdul Aziz yang adalah ayahnya. Pangeran Abdullah dikenal sangat kuat memegang ajaran agama dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap rakyat dan Tanah Air. Ia langsung mendapat pendidikan dari para ulama senior Arab Saudi di bidang agama, sejarah, politik, dan sosiologi.
Karier
Jabatan yang pernah disandang
Abdullah juga pernah menjabat Perdana Menteri dan Komandan Dewan Garda Nasional. Ia juga pimpinan Supreme Economic Council, Wakil Presiden High Council for Petroleum and Minerals, Presiden King Abdulaziz Centre for National Dialogue, Wakil Pimpinan Council of Civil Service, dan anggota Military Service Council.
Komandan satuan elit
Pada tahun 1962, ia ditunjuk sebagai komandan satuan elit Pengawal Nasional karena pengalamannya yang luas dalam urusan Badui dan kabilah di padang pasir semenanjung Jazirah Arab. Sejak menjabat komandan dan Pengawal Nasional, sosoknya sudah tak bisa dipisahkan dari kesatuan elite tersebut.
Pada anggota Pengawal Nasional berasal khusus dari anak cucu Mujahidin yang pernah berjuang bersama Raja Abdul Aziz dalam menyatukan Jazirah Arab dan kemudian mendirikan negara Arab Saudi.
Pangeran Abdullah berhasil memimpin Pengawal Nasional bukan semata sebagai lembaga militer tetapi juga wadah sosial dan budaya anggotanya. Semenjak ia dipercaya sebagai komandan pengawal nasional telah dilakukan restrukturisasi dan resionalisasi sesuai dengan manajemen militer modern. Sebagai bentuknya, ia mendirikan akademi militer untuk mendidik dan menempa kandidat anggota dan perwira pengawal nasional. Akademi militer tersebut dinamakan Institut Militer Raja Khalid bin Abdul Aziz. Institut ini diresmikan olehnya pada 18 Desember 1982.
Ia menangani sendiri mega-proyek pengembangan pengawal nasional. Karena, lembaga itu merupakan titik balik sejarah lembaga satuan elite pengawal nasional. Di antara mega-proyek itu seperti pembentukan divisi gabungan dalam jajaran pengawal nasional yang terdiri dari satuan logistik, intelijen, dan infanteri. Pangeran Abdullah juga mendirikan kompleks militer dan tempat latihan khusus untuk satuan elite pengawal nasional.
Pada 29 Maret 1975, ia ditunjuk sebagai Deputi Kedua Dewan Kabinet Arab Saudi. Selain ditunjuk oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz sebagai putra mahkota pada 13 Juni 1982. Pada hari itu juga, Pangeran Abdullah dipromosikan sebagai Deputi Utama Dewan Kabinet Arab Saudi. Sejak kesehatan Raja Fahd bin Abdul Aziz menurun, praktis secara de facto mengendalikan kekuasaan dan kebijakan dalam dan luar negeri. Ia diangkat sebagai bupate de facto regent pada tahun 1996. Ia amat menaruh perhatian pada upaya pelestarian budaya dan khazanah yang melibatkan para ulama dari dunia Arab dan Islam.
Sejak 1997, dia telah meluncurkan program privatisasi dengan menghapus daftar larangan berusaha dan membiarkan perusahaan publik tumbuh secara bebas. Kebijakan luar negerinya lebih pro-Arab daripada Barat. Pada 1980, ia berhasil sebagai mediator perundingan dalam konflik Suriah-Yordania. Ia juga menjadi arsitek Perjanjian Taif 1989 yang mengakhiri perang sipil di Lebanon pada periode 1975-1990. Selain, meningkatkan kembali hubungan bilateral dengan Mesir, Suriah, dan Iran.
Pada April 2001, Pangeran Abdullah menyelenggarakan seminar tentang sejarah hubungan Arab Saudi dan Palestina. Seminar itu mendatangkan tokoh-tokoh Arab. Dalam seminar itu dibahas isu dukungan Arab Saudi terhadap perjuangan rakyat Palestina sepanjang sejarahnya dan dalam berbagai aspek. Dari seminar tersebut disimpulkan bahwa Arab Saudi telah memberi dukungan besar perjuangan rakyat Palestina meskipun Arab Saudi tidak termasuk negara Arab garis depan yang berbatasan langsung dengan Israel.
Dengan bobot kapasitasnya di dunia Arab dan Islam, Arab Saudi senantiasa hadir secara kuat dalam kancah konflik Arab-Israel. Pemerintah Arab Saudi ikut menjadi mediator konflik militer Palestina-Yordania pada September 1970. Konflik ini dikenal dengan Black September. Konflik itu berakhir dengan keluarnya Yasser Arafat (1929-2005) dari Yordania menuju Lebanon.
Arab Saudi juga tampil sebagai mediator dalam upaya menengahi perbedaan pendapat antara Suriah dan Palestina dengan Mesir. Di pihak lain menyusul meletusnya perang saudara di Lebanon tahun 1975. Upaya damai tersebut dimaksudkan untuk memelihara kesatuan potensi kekuatan Arab dalam menghadapi Israel, sehingga menjadi kekuatan tawar-menawar dalam perundingan damai dengan Israel. Upaya damai Arab Saudi yang terkenal adalah inisiatif damai yang ditawarkan Raja Fahd bin Abdul Aziz pada forum KTT Arab tahun 1982 di Fez (Maroko).
Proposal damai dengan Israel
Saat itu, Raja Fahd menawarkan inisiatif damai berdasarkan Resolusi PBB Nomor 242 dan Nomor 338. Untuk pertama kalinya, negara-negara Arab siap mengakui Israel sebagai negara yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara Arab. Pertengahan Februari 2002, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz mengungkapkan kepada wartawan The New York Times bernama Thomas Friedman tentang proposal damai mengenai Israel.
Proposal yang disebut Proposal Damai Arab Saudi semakin strategis karena dilontarkan ketika negara-negara Arab bersiap menggelar KTT Arab di Beirut (Lebanon) pada 27-28 Maret 2002. Di samping itu, Proposal Damai Arab Saudi disampaikan ketika aksi kekerasan Israel-Palestina mencapai titik terburuknya sejak Intifada Al Aqsa pada 28 September 2000. Proposal itu sendiri merupakan pengembangan inisiatif damai yang pernah dilontarkan Raja Fahd 20 tahun berlalu. Ketika itu, Raja Fahd hanya siap mengakui negara Israel. Tetapi, Pangeran Abdullah lebih jauh dari itu yakni menjalin hubungan normal dengan Israel dalam semua aspek kehidupan. Aspek itu seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, wisata, dan sebagainya.
Diangkat sebagai Raja
Ia semakin leluasa menjalankan pemerintahan setelah dinyatakan secara resmi sebagai raja Arab Saudi sejak wafatnya Raja Fahd bin Abdul Aziz pada 1 Agustus 2005. Sementera, Menteri Pertahanan Sultan bin Abdul Aziz dinyatakan sebagai putra mahkota. Raja Abdullah bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin Arab yang nasionalis juga modernis. Di bidang sosial-politik, Abdullah menyelenggarakan dialog nasional yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat dan menggelar pemilihan langsung anggota kota praja(Dewan Konsultatif) secara nasional awal tahun 2005. Ia juga membuka kesempatan kepada para pemodal asing untuk menanamkan investasi di bidang eksplorasi dan produksi gas.
Ia diresmikan menjadi Raja pada 3 Agustus 2005. Abdullah juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Komandan Garda Nasional Saudi. Dia diberikan jabatan Komandan Garda Nasional Saudi pada tahun 1963 dan jabatan Wakil Perdana Menteri pada Juni 1982. Dari empat istrinya lahir sepuluh putra dan 10 putri. Sebelum menjadi komandan Garda Nasional, ia menjabat Wali Kota Mekkah. Ia dikenal alim dan sederhana. Ia tidak pernah diterpa masalah korupsi atau pun terlibat gaya hidup para pangeran negeri Arab yang biasanya lekat dengan banyak wanita dan kehidupan
Jalan Kereta Api Mekah Madinah-Jeddah
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian pembangunan jalan kereta api Mekah-Madinah-Jeddah dengan biaya SR6,79 miliar yang dilaksanakan oleh konsorsium yang dipimin perusahaan raksasa Arab Saudi, Al-Rajhi.
Penandatanganan dilakukan Menteri Keuangan Arab Saudi Dr. Ibrahim al-Assaf dan Menteri Transportasi Dr. Jabara Al-Seraisry dan dari pihak Al-Rajhi diwakili Sulaiman Abdullah Al-Rajhi, yang menjabat sebagai ketua konsorsium yang melibatkan kontraktor Al-Arrab dan 18 perusahaan Cina.
Proyek ini adalah prakarsa Khadimul haramain untuk memudahkan transpotasi jemaah haji dan umrah. Jelur kereta api akan dibangun sepanjang 450 kilometer yang akan menghubungkan Mekah-Madinah dan Jeddah. Nantinya, kerea api yang dipergunakan adalah TGV (Prancis) yang emiliki kecepatan 320 kilometer perjam. Jarak tempuh Mekah-Madinah atau Jeddah-Madinah hanya sekitar 2 jam. Sementara perjalanan dari Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah menuju kota suci Mekah ditempuh hanya dalam waktu 30 menit.
Tahap pertama dari proyek ini akan mencakup persiapan tanah, pemangunan jembatan, dan terowongan. "Kami mempertimbangkan sebuah proyek besar dalam sejarah transportasi di Kerajaan Arab Saudi," kata Al-Seraisry. "Kereta berkecepatan tinggi tidak hanya akan mempersingkat durasi perjalanan tetapi juga menjamin kenyamanan penumpang," katanya seperti dikutip harian Arab News edisi Jumat, 5 Maret kemarin. Kereta api ini akan dikelola Saudi Railway Organization (SRO).
Menurut Abdul Aziz Al-Hoqail, presiden SRO, proyek akan selesai pada pertengahan tahun 2012 dan uji coba operasi akan dilakukan untuk jangka waktu enam bulan sampai resmi diluncurkan pada bulan November tahun yang sama. "Kereta api peluru yang menghubungkan Mekah dan Madinah yang aman akan meluncurkan jemaah dan penumpang lain dengan nyaman. Kereta api tersebut akan dilengkapi sistem komunikasi terbaru," katanya.
Investasi grup Al-Rajhi untuk proyek ini mencapai 63,75%, sementara konsorsium perusahaan Cina mencapai 21,25%. Alstom, perusahaan transportasi Perancis pembuat kereta api cepat TGV akan menawaran pilihan transportasi. "Kami sangat antusias mengenai proyek yang akan melayani jutaan peziarah ini," kata Samer MS Arafa, eksekutif Vice President Al-Arrab, mitra Al-Rajhi. Dia menambahkan bahwa perusahaan akan menyelesaikan proyek sesuai jadwal
Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya.
Bangunan-bangunan itu dibongkar karena berbagai alasan, namun sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia lainnya. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Beberapa bulan yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah Arab mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
"Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir," katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.
Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994.Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW.
Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.
Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Wallohu alam bi shawab.

: Ainun Habibie Wafat

Inna lillahi wa inna ilayhi raji`un. Kabar duka datang dari Jerman. Mantan ibu negara 
Batik Tulis Gurik BG06Hasri Ainun Habibie yang sempat terbaring kritis di Rumah Sakit LMU Klinikum Munchen, Jerman, wafat pada pukul 17.30 waktu setempat. Kabar duka ini disampaikan mantan anggota Komisi I DPR, Ali Mochtar Ngabalin, di Jakarta, Sabtu (22/5), malam setelah ia melakukan kontak langsung dengan mantan Presiden BJ Habibie.
"Pak Habibie mengabarkan kepada saya pada Sabtu pukul 22.48 WIB dan beliau menyampaikan permohonan maaf atas segala kekhilafan. Dan keluarga mohon doa dari seluruh masyarakat Indonesia atas berpulangnya Ibu," kata Ali Mochtar.
Sebelumnya, Junus Effendi Habibibi atau Fani, adik BJ Habibie, meminta masyarakat Indonesia mendoakan Ibu Ainun serta BJ Habibie yang terlihat sangat terpukul. "Tadi melalui sambungan telepon, Om Fani meminta saya menyampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan agar ibu Ainun diberi jalan terbaik oleh Allah, apa pun itu," kata Ali Mochtar.
Beberapa jam sebelumnya, alat bantu yang melekat di tubuh Ibu Ainun memang sudah dilepas. Pihak keluarga baik yang berada di Jerman maupun Jakarta sudah pasrah kepada kehendak Tuhan. Mereka juga meminta seluruh rakyat Indonesia mendoakan yang terbaik untuk ibu Ainun.
Sebelumnya, Ibu Ainun diberitakan menderita tumor di paru-parunya dan dirawat di LMU Klinikum Munchen, Jerman, sejak Maret lalu. Dalam waktu sebulan sudah menjalani delapan kali operasi pengangkatan tumor [baca: Ainun Habibie Dikabarkan Kritis].
Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Wakil Presiden Boediono terus memantau perkembangan kesehatan. "Presiden berpesan dan berdoa untuk kesembuhan Ibu Ainun. Presiden juga minta Wapres Boediono menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk membantu Pak Habibi

Laskar Muda


Laskar-laskar barisan Muda
Menembus cakrawala
Gelora semangat puja
Batik Tulis Gurik BG07

Hasrat damba lagu remaja
Laskar Muda pondasi masa
Shimponi laksana para permata
Corak-corak pelita muda
Mahligai genderang api dunia
Angan prestasi di angkasa
Bertabur di pelupuk jiwa
Mentari cahaya fenomena
Perisai kalbu bergelora
Remaja tak kenal putus asa
Suatu metode perkasa
Ayat-ayat angan cita
Raih mimpi dalam nyata
Mimpi para remaja
Senandung ayat usia belia
Impian raih pelangi Nusantara
Takkan luluh di telan problema
Karya: Siti Khumairah
SMP Negri 1 KOTA BESI
18 Mei 2010

INFLASI RENDAH BUTUH 7 TAHUN

I.  Alat-alat yang digunakan : Gunting, kertas HVS, lem, Koran, komputer, printer.
II. Nama surat kabar yang digunakan : Jawa Pos.
Batik Tulis Gurik BG08III.    Judul dan tanggal dari artikel yang diambil : “INFLASI RENDAH BUTUH 7 TAHUN” / 7 September 2004.
IV. Ringkasan artikel : Bank Indonesia memperkirakan target inflasi jangka panjang 3 % baru tercapai 5-7 tahun mendatang.
V.  Analisis : Sistem ekonomi yang digunakan adalah Sistem ekonomi campuran karena pemerintah ikut campur tangan dalam perekonomian dalam bentuk mengeluarkan peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan untuk mengatur dan mengawasi kegiatan ekonomi agar berjalan normal dan wajar. Dari artikel tersebut, ada korelasi (hubungan) yang negatif antara tingkat inflasi (Kenaikan harga barang) dengan pertumbuhan ekonomi, artinya jika pertumbuhan ekonomi Indonesia rendah, maka tingkat inflasi menjadi tinggi dan sebaliknya bila pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi, maka tingkat inflasi menjadi rendah. Untuk mencapai inflasi rendah 3 % akan diupayakan bertahap dengan sasaran dalam bentuk Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2007 sebesar 5 %, maka inflasi pada tahun tersebut akan berada dibawahnya sehingga 3 % tercapai.
VI. Kesimpulan : Untuk mencapai inflasi rendah, maka pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan.

GAYA SENTRIPETAL

          Gaya sentripetal ialah gaya yang arahnya menuju ke pusat lingkaran. Gaya ini dijelaskan bahwa gaya netto yang bekerja pada suatu benda mengarah pada pusat lintasan geraknya sehingga menyebabkan benda melakukan gerak melingkar.
          Benda yang melakukan gerak melingkar beraturan mempunyai percepatan yang selalu mengarah pada pusat lingkaran atau percepatan sentripetal, berarti suatu gaya juga bekerja pada benda tersebut. Gaya pada gerak melingkar beraturan diperlukan untuk menimbulkan percepatan sentripetal. Arah gaya ini juga selalu mengarah pada pusat lingkaran sehingga disebut gaya sentripetal. Secara matematis, persamaan gaya sentripetal ditulis sebagai :
Fs=m v2/R atau Fs=2R atau Fs=m4π2R/T2
Dimana:       m= massa benda (kg)
                   V= laju linier (m/s)
                   R= jari-jari lingkaran
                   ω= kecepatan sudut (rad/s)

SUHU

Suhu menunjukkan aktivitas molekul yang ada dalam suatu zat.

Perbandingan skala thermometer:
Perbandingan skala celcius, farenheit, reamur dan kelvin.
T (°C) : t (°F) : t (°R) : t (°K) = 100 : 180 : 80 : 100 = 5 : 9 : 4 : 5
T (°F) = 9/5 t (°C) + 32
T (°R) = 4/5 t (°C)
T (°K) = t (°C) + 273
ALAT YANG DIGUNAKAN
-          Beban
-          Penggaris
-          Stopwatch
-          Benang
-          Thermometer
-         
LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN
GAYA SENTRIPETAL:
Ukur massa beban, hitung panjang benang, setelah itu putar benang sepanjang yang kita hitung sebanyak 10 putaran, lakukan hal yang sama dengan panjang benang yang berbeda sebanyak 20 kali, catat waktu putar yang dihitung dengan stopwatch.
SUHU:
Ambil thermometer, masukkan ke dalam es, air biasa, dan air mendidih, kemudian ukurlah, lalu hitung pula ke dalam derajat farenheit, reamur, dan kelvin.

Jenis-jenis tanah di Pulau Kalimantan

1.Tanah Gambut (Organosol)
Ciri-cirinya : a.Tanahnya kurang subur
Batik Tulis B13 Katun Super                b.Terbentuk dari bahan-bahan organik
             c. Tdk berasal dr pelapukan batuan
2. Tanah Laterit
Ciri-cirinya : a.Warnanya kekuning-kuningan sampai merah
             b.Tanahnya tidak subur
                    c.Tanahnya tandus
KESIMPULAN P. KALIMANTAN : Tanahnya kurang subur, kecuali daerah
                       Dekat aliran sungai di tepi pantai
                             (Yang terdiri dari tanah aluvial)

Pengikut

OK Rek